Jakarta Makin Panas, Urban Heat Island Jadi Biang Keroknya

PeduliJakarta.com – Suhu panas di Jakarta diprediksi masih akan menyengat setidaknya dalam sepekan ke depan. Bahkan, suhu yang dirasakan (real feel) diperkirakan bisa mencapai 43 derajat Celsius. Namun, angka tersebut bukanlah semata-mata akibat faktor cuaca. Ada fenomena struktural yang membuat kota-kota besar seperti Jakarta terasa jauh lebih gerah dari yang seharusnya. Fenomena itu bernama Urban Heat Island (UHI) atau pulau panas perkotaan.

Apa itu Urban Heat Island? Fenomena ini terjadi ketika suhu di wilayah perkotaan secara konsisten lebih tinggi dibandingkan daerah pedesaan di sekitarnya. Penyebab utamanya adalah dominasi material seperti aspal, beton, dan gedung bertingkat yang menyerap panas matahari lalu melepasnya secara perlahan. Minimnya vegetasi dan ruang terbuka hijau turut memperparah kondisi tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah lama mengingatkan soal bahaya UHI. Dwikorita Karnawati, saat masih menjabat sebagai Kepala BMKG, pernah menyatakan bahwa kawasan Jabodetabek beserta kota-kota besar lain seperti Medan, Surabaya, Makassar, dan Bandung termasuk dalam 20 persen kota dengan nilai suhu permukaan (Land Surface Temperature) tertinggi di dunia. “UHI ini harus kita mitigasi bersama. Perlu kesadaran dan aksi nyata menghadapi UHI ini,” ujar Dwikorita pada tahun 2024 lalu.

Menurut catatan BMKG, dalam kurun waktu tiga dekade terakhir, efek UHI semakin terasa. Peningkatan suhu yang berkaitan dengan fenomena ini bervariasi, tergantung pada tutupan lahan di masing-masing wilayah. Beberapa faktor pemicu UHI antara lain struktur geometris kota yang rumit, sedikitnya vegetasi, serta efek rumah kaca. Perubahan tutupan lahan menjadi area terbangun juga ikut memperburuk terjadinya pulau panas perkotaan.

Pohon Bukan Satu-Satunya Jawaban

Salah satu solusi yang kerap disebut-sebut bisa meredam UHI adalah penanaman pohon di kawasan perkotaan. Data terbaru membuktikan efektivitasnya, meskipun tidak sesederhana yang dibayangkan. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature menemukan bahwa pepohonan di perkotaan mampu mengurangi efek Urban Heat Island hampir 50 persen. Secara konkret, ini berarti terjadi penurunan suhu udara sekitar 0,5 hingga 1,5 derajat Celsius di banyak kota, yang berdampak langsung bagi lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia.

“Efeknya jauh lebih besar dari yang kami perkirakan,” kata para peneliti, seperti dikutip dari The Conversation pada Kamis (7/5). Kesimpulan itu diambil dari analisis data hampir 9.000 kota di dunia yang dihuni sekitar 3,6 miliar orang. Namun, pendinginan ini tidak dirasakan secara merata. Kota-kota yang lebih kaya, bersifat suburban, dan memiliki kelembapan tinggi rata-rata memiliki lebih banyak pohon. Artinya, manfaat pendinginan dari pepohonan justru lebih banyak dinikmati oleh kota-kota dengan kondisi yang sudah lebih baik.

Sementara itu, wilayah yang paling membutuhkan, seperti kawasan padat dan miskin vegetasi di banyak bagian Jakarta, justru paling sedikit mendapatkan manfaatnya. Studi ini juga memperkirakan bahwa pepohonan perkotaan yang ada saat ini hanya mampu mengimbangi sekitar 10 persen dari tambahan panas yang diproyeksikan terjadi pada pertengahan abad ini. Bahkan dengan program penanaman pohon yang sangat ambisius sekalipun, angka itu hanya akan naik menjadi sekitar 20 persen.

Perlu Strategi Lebih Luas

Para peneliti menegaskan bahwa pohon harus menjadi bagian dari strategi yang lebih luas, bukan satu-satunya solusi. Pendekatan lain yang mulai banyak dikembangkan di berbagai kota dunia mencakup penggunaan atap berwarna terang yang memantulkan sinar matahari (cool roof), desain kota yang lebih ramah terhadap aliran angin, hingga pengurangan sumber panas seperti kendaraan bermotor dan pendingin ruangan. “Desain perkotaan yang cerdas dapat mengurangi panas dengan menggunakan bahan reflektif, memperluas ruang hijau, dan meningkatkan sirkulasi udara di antara bangunan. Atap hijau dan jalan yang teduh juga dapat memberikan dampak positif,” kata para peneliti.

Mereka juga merekomendasikan agar penanaman pohon baru difokuskan pada kawasan yang lebih panas dan memiliki tutupan pohon yang lebih sedikit. Langkah ini akan memberikan manfaat terbesar. BMKG sendiri menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dalam menghadapi UHI. Pasalnya, tanpa data yang akurat, analisis dan kebijakan dapat meleset. “Kita membutuhkan data sebagai verifikasi untuk membantu tugas BMKG dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Supaya tidak salah langkah, maka harus berbasis data, termasuk dalam memitigasi UHI ini,” kata Dwikorita saat itu. (*)