Kemenkes Siapkan Alat Deteksi Massal untuk Wujudkan Indonesia Bebas Kusta

PeduliJakarta.com, JAKARTA – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia berkolaborasi dengan para pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) dan Kelompok Studi Masyarakat dan Health Intervention (KSMHI) untuk mempercepat pencapaian target eliminasi kusta atau zero leprosy di Indonesia. Salah satu langkah konkret yang disepakati adalah penggunaan inovasi alat deteksi dini kusta secara massal di masyarakat. Tujuannya memutus rantai penularan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di beberapa wilayah.

Kesepakatan ini mengemuka dalam diskusi strategis bersama Wakil Menteri Kesehatan RI II, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P., yang digelar di Kantor Kemenkes Jakarta pada Rabu (27/5/2026). Pertemuan tingkat tinggi tersebut menjadi ajang penyelarasan program kerja KSMHI dengan kebijakan nasional. Kemenkes mendorong akademisi dan klinisi untuk terlibat aktif dalam penanganan prioritas ini.

Selain penyelarasan program, forum tersebut juga membahas metode deteksi dini yang lebih efisien dan mudah diterapkan di tengah masyarakat. KSMHI bahkan bersiap melakukan uji klinis untuk mempercepat penemuan kasus baru di lapangan. “KSMHI juga didorong untuk mengambil peran aktif dalam berbagai program nasional, termasuk pelaksanaan clinical study multicentre rapid diagnostic test yang diinisiasi oleh Universitas Andalas,” ujar Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes, Sp.DVE, yang juga menjabat Wakil Ketua KSMHI.

Kolaborasi Melalui LEPRIMA 2026

Di samping membahas alat deteksi, pertemuan tersebut juga mematangkan persiapan agenda besar bertajuk Leprosy Prevention and Integrated Management Approach (LEPRIMA 2026). Kegiatan ini akan menjadi wadah integrasi penanganan kusta secara nasional. Pemerintah pusat memberikan perhatian khusus terhadap implementasi manajemen terpadu tersebut. Wakil Menteri Kesehatan menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan LEPRIMA 2026 yang akan digelar di Bogor pada 30–31 Mei 2026. Ia juga berencana hadir dan membuka acara tersebut.

BACA JUGA:  Kualitas Udara Jakarta Memburuk, Peringkat Keempat Terburuk di Dunia, Warga Diimbau Pakai Masker

Dukungan penuh dari Wamenkes RI semakin memperkuat optimisme para klinisi. Dengan sinergi antara kementerian dan institusi pendidikan tinggi, diharapkan rantai penularan kusta dapat diputus secara efektif. Target Indonesia bebas kusta bukan sekadar wacana, melainkan program nyata yang terus digenjot.

Komitmen Akademisi untuk Indonesia Bebas Kusta

Keterlibatan aktif FK UMS dalam perumusan kebijakan ini menegaskan peran penting universitas dalam pengabdian masyarakat. Sesuai dengan misinya, institusi pendidikan tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga turun langsung menyelesaikan masalah kesehatan global. Langkah nyata ini sekaligus memperkuat kontribusi kampus dalam mendukung pembangunan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan. “Partisipasi FK UMS dalam agenda ini menjadi bagian dari komitmen institusi untuk memperkuat kontribusi pendidikan kedokteran, pelayanan kesehatan, dan kolaborasi akademik,” tegas Flora pada Kamis (28/5/2026).

Forum koordinasi ini memastikan bahwa hasil riset kampus dapat langsung diaplikasikan dalam kebijakan publik. Strategi taktis ini menjadi pijakan utama untuk mewujudkan target ambisius Indonesia bebas kusta di masa depan. (*)