Kualitas Udara Jakarta Memburuk, Peringkat Keempat Terburuk di Dunia, Warga Diimbau Pakai Masker
PeduliJakarta.com, JAKARTA – Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Nabilah Aboe Bakar Alhabsyi, mengingatkan masyarakat tentang buruknya kualitas udara di ibu kota. Berdasarkan data terbaru, Jakarta menempati posisi keempat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Kondisi ini dinilai sangat mengkhawatirkan dan berdampak langsung pada kesehatan warga. Nabilah pun mengimbau agar masyarakat mulai menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Peringkat buruk ini bukanlah hal baru bagi Jakarta. Setiap tahun, ibu kota kerap masuk dalam daftar kota dengan polusi udara tertinggi, terutama saat musim kemarau. Konsentrasi partikel halus PM2,5 kerap melampaui batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Nabilah menilai bahwa masalah ini sudah darurat dan membutuhkan penanganan serius dari pemerintah, baik pusat maupun daerah. “Warga jangan anggap remeh. Polusi udara bisa memicu penyakit paru-paru, asma, hingga gangguan jantung. Pakai masker adalah langkah sederhana tapi sangat penting,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Nabilah juga menyoroti perlunya langkah konkret untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta dalam jangka panjang. Ia mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperketat uji emisi kendaraan bermotor, memperbanyak ruang terbuka hijau, serta mengoptimalkan transportasi publik massal. Menurutnya, tanpa intervensi serius, status kualitas udara Jakarta tidak akan membaik dan akan terus membahayakan jutaan warganya. Ia juga mengkritik lemahnya penegakan hukum terhadap industri dan kendaraan yang melanggar batas emisi.
Selain imbauan memakai masker, Nabilah meminta pemerintah daerah untuk secara rutin menginformasikan data kualitas udara secara real-time kepada publik. Informasi yang transparan akan membantu warga merencanakan aktivitas mereka, misalnya dengan mengurangi kegiatan di luar rumah saat polusi sedang sangat tinggi. “Masyarakat berhak tahu. Dengan data yang akurat, mereka bisa melindungi diri sendiri dan keluarganya,” tambah Nabilah.
Polusi udara Jakarta sebagian besar disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, dan pembangkit listrik. Minimnya ruang terbuka hijau juga memperparah kondisi karena tidak ada area yang cukup untuk menyerap polutan. Nabilah berharap sinergi antara DPRD, Pemprov DKI, dan pemerintah pusat dapat segera menghasilkan kebijakan yang efektif. Langkah-langkah jangka pendek seperti penggunaan masker dan pengurangan aktivitas luar ruangan saat polusi tinggi perlu diiringi dengan solusi jangka panjang seperti transisi ke energi bersih dan pengendalian emisi. “Kita tidak bisa terus-terusan jadi kota dengan udara terburuk. Ini masalah kesehatan publik yang tidak bisa ditawar,” pungkas Nabilah. (*)