Kisah Ardi, Gondolaman yang Bertaruh Nyawa Di Ketinggian Jakarta Demi Keluarga

PeduliJakarta.com – Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, ada pria yang setiap hari bergantung pada seutas tali. Namanya Ardi Suhardi (30). Pekerjaannya menggondol gedung-gedung pencakar langit. Risiko jatuh selalu mengintai. Tapi ia tak punya pilihan lain. Dari ketinggian itulah ia menopang hidup istri dan anaknya yang baru lahir.

Merantau dengan Bekal Rp100 Ribu

Ardi berasal dari Kampung Kadu Apus, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, Banten. Ia merantau ke Jakarta dengan bekal tipis. Seratus ribu rupiah dari orang tua untuk ongkos bus. Tiga puluh lima ribu di antaranya habis untuk tiket dari Terminal Labuan ke Kalideres. Kini ia tinggal di kontrakan bersama dua rekannya di Jatibening, Bekasi. Setiap hari ia berangkat kerja menggunakan KRL.

Sebelum menjadi gondolaman, Ardi sempat mencoba berbagai pekerjaan. Sales elektronik di Pandeglang hanya bertahan sebulan. Pendapatan Rp300 ribu sebulan tak cukup untuk hidup. Lalu ia menjadi kenek bangunan di Jakarta sekitar tahun 2018. Enam bulan ia mengangkut material. Setelah itu, seorang teman mengajaknya belajar rope access. Ia ikut sertifikasi. “Sambil belajar jadi gondolaman, ikut sertifikasi, baru diajak sepupu buat kerja. Sampai sekarang masih jadi Rope Access, udah 7 tahunan,” kata Ardi saat dihubungi, Senin (4/5).

Tamat SMP, Anak Buruh Emping

Pendidikannya hanya tamat SMP tahun 2012. Keterbatasan ekonomi membuatnya tak bisa melanjutkan sekolah. Orang tuanya bekerja sebagai buruh pembuatan emping di kampung. Mereka masih bertahan hingga kini. Dari kondisi itulah Ardi belajar tekun dan bersyukur. Pesan orang tua selalu ia ingat. “Hati-hati dan jangan lupa berdoa selama kerja. Yang penting berangkat selamat, pulang juga selamat,” ujarnya.

Kini Ardi bekerja freelance. Ia berpindah dari satu proyek ke proyek lain, dari satu vendor ke vendor lainnya. Dalam sebulan, ia bisa menangani dua hingga tiga gedung berbeda. Pekerjaannya beragam: membersihkan kaca, mengecat, perbaikan, semua yang membutuhkan tali. Penghasilannya pun naik signifikan. Sebagai sales dulu hanya Rp300 ribu sebulan. Kini per hari ia bisa mendapat Rp300 ribu hingga Rp500 ribu.

Risiko Nyawa di Setiap Tali

Namun risiko selalu membayangi. Setiap hari ia bergantung pada tali. Kelelahan adalah sahabat karib. “Kalau capek pasti ada. Apalagi kalau kita nemu yang gedungnya ribet atau apa gitu kan pasti ada rasa capek,” ujarnya. Tak jarang ia ingin mencari pekerjaan lain. Terutama setelah berkeluarga. Risiko nyawa terus menghantuinya. “Ya karena kan ini risikonya nyawa juga gitu. Tinggi lah ini risikonya gitu kan pengin cari kerja yang lain, apalagi sudah berkeluarga kan risiko kepikiran terus kan,” harap Ardi. Tapi untuk saat ini, ia memilih bertahan. “Pernah berpikir cari kerja yang lain, cuma kan daripada kita belum ada tujuan ya kan mending kita jalanin saja dulu gitu,” katanya.

Harapan untuk Anak

Ardi menikah pada akhir 2023. Kini ia memiliki seorang anak laki-laki yang baru berusia satu bulan. Istri dan anaknya tinggal di kampung halaman. Ia tidak bisa setiap saat pulang. “Pulang nggak tentu, kalau freelance itu kan kadang-kadang satu minggu sekali atau dua minggu sekali, kadang sebulan sekali gitu,” kata Ardi. Meski hidup penuh keterbatasan, ia menyimpan harapan besar untuk anaknya. “Saya sih berharap anak saya nanti jangan kayak saya, kalau bisa lebih dari saya sekarang ini,” ujarnya penuh harap.

Dulu ia bercita-cita menjadi ustaz. Tapi mimpi itu tak kesampaian. Kini ia hanya ingin memastikan anaknya mendapatkan kesempatan lebih baik. Di tengah risiko dan ketidakpastian, Ardi memegang prinsip sederhana. “Ya intinya kalau saya itu jangan nganggur di rumah saja. Mau kecil mau besar pendapatan kita kan rezeki sudah ada yang mengatur begitu kan, kita bersyukur saja. Kita sudah dikasih kerjaan saja sudah alhamdulillah ya kan,” ujar Ardi. Dari ketinggian gedung Jakarta, ia menggantung nyawa, juga harapan. (*)